Wednesday, April 7, 2010

NYANYIAN ZAMAN

Eros Ms

DADI WONG


dadi wong ojo
mencla mencle
bakal akeh musuhe

dadi wong ojo
plengas plengos
petitak petitik
bakal akeh sing ngayahi

dadi wong ojo mung
melu melu
runtang runtung
rena rene
bakal akeh sing nakoni

dadi wong ojo mung
ngguya ngguyu
mesam mesem
prengat prengut
plirak plirik
bakal akeh sing ngrasani

dadi wong kudu
unggah ungguh
guyab guyub
asah asih
silah silih
ora ngasorake
bakal akeh kancane


7 Desember 2010 M
1 muharram 1432 H



Den Ros

PERUBAHAN ZAMAN

tiada jaminan bahagia atas perubahan zaman
kini lebih baik bangun kampung bahagia

tiada jaminan sejahtera atas perubahan zaman
kini lebih baik bangun kampung sejahtera

tiada jaminan aman dari perubahan zaman
kini lebih baik bangun kampung aman

kekayaan dan keindahan kapital bangun kampung di tengah perubahan zaman

27-05-2010


GAYS BERNYANYI

Bernyanyilah Gays
Gays bernyanyi
menjadikan rumput-rumput bergoyang
menjadikan rembulan bersinar menembus lorong kegelapan

Bernyanyilah Gays
Gays bernyanyi
menjadikan kunang-kunang menerangi kelamnya malam
menjadikan jiwa-jiwa massa berteriak lantang di tengah lapang
menjadikan mayat-mayat bangun dari kuburnya
menelenjangi kehidupan yang penuh kepongahan

Bernyanyilah Gays
Gays bernyanyi
menjadikan cermin retak utuh kembali
orang berebut tuk mematut diri

Bernyanyilah Gays
bernyanyilah


MENGGAPAI KEINDAHAN

Sinar pencerahan menusuk sukma kala cintanya tertambat di sebuah Surau. Hembusan angin gugah asa anak muda,
sepanjang kakinya tapaki bumi sinar itu menemaninya mesra.

Sinar itu sinar keindahan, bukan sinar kepalsuan yang perlahan meredup berubah menjadi gelap. Gelap itu lorong penderitaan,
tak seorang pun ingin memasukinya.

Tak mudah gapai sinar pencerahan, selama butiran materi tutupi hati dan jari jemari diam tak gerak, sinar itu terus bergelayutan di awang.

sinar pencerahan datang
lorong gelap lari menghilang.


ANDAI AKU

andai kujadi raja, kan kutaburkan bunga kasih sayang
kritikan rakyat kuterima dengan lapang dada
senyum manis kutebarkan pada semua
marah dan dengki kan jauh kubuang

andai kujadi raja, kan kubuka lebar pintu penjara,
kubiarkan kosong sepi tanpa penghuni
para narapidana melangkah pulang ke rumah sendiri
menyanyi, menari sesuka hati
melepas kegalauan meneguk air surgawi
membuang dahaga yang menyiksa

andai mereka kembali mengumbar dusta
tiada kata tiada sapa kubawakan bunga kamboja
menemani langkahnya menuju neraka

andai kujadi raja, rakyat kan kurelakan
menapaki masa depannya penuh pencerahan.

21-11-09

Selengkapnya...

Saturday, January 30, 2010

TUHAN SUDAH MATI?


RosiChin M.

Rerumputan hijau menghampar di tengah lapang, jalan setapak bebatuan alami melintasinya menuju tempat duduk berpayung kain. Terlihat beberapa mahasiswa menempatinya. Eza mengawali dialog dengan lontaran proposisi, para agamawan pastinya takkan mengatakan: 'Tuhan sudah mati', bahkan takkan sedikit pun terbesit dalam pikiran dan atau hatinya, melainkan selalu berpandangan 'Tuhan tetap hidup, Tuhan takkan mati' manusia pun harus sujud pada-Nya. Sadewa menyahut, Nietzsche punya pikiran beda, ia berpandangan: 'Tuhan sudah mati'. Lantas Ayu pun menimpali, lantaran Tuhan sudah mati, manusia bebas berkreasi dan bisa menjadi Overman, bayang-bayang Tuhan di atas manusia menghilang bersama awan, dunia pun berada dalam genggaman tangannya. Manusia bebas menggulung dan menggelar dunia serta menjungkirbalikkan realita sambil tertawa.

Lala menambahkan Agama bagai bunga yang layu menguning, semerbak harumnya hilang tersapu angin di tengah padang kehidupan, Titah Tuhan pun tertelan bumi. Sementara Den Ros hanya tersenyum, menjadi pendengar setia atas dialog teman-temannya yang penuh makna, dan berguman dalan hati: manusialah yang mencipta tuhan, menghidupkan dan mematikannya. Sementara Lela yang suka bicara tak terlihat batang hidungnya entah di mana, mungkin sedang berjalan menyusuri lorong sosial yang dipenuhi jiwa-jiwa, dan hiasan warna warni lampu kehidupan. Sore mulai datang Eza dan teman-teman berkemas meninggalkan tempat dengan membawa sebongkah makna kehidupan.

Tiba-tiba Lela yang cantik tampak berlari sambil berpesan 'jangan pulang dulu'. Kawan-kawannya pun urung meninggalkan taman. Tanpa basa basi Lela bicara kapitalisme yang lepas dari konteks dialog Eza dan kawan-kawan. Kapitalisme melanda di mana-mana hingga di relung sukma, bahkan menjadi ideologinya. Kini langkah kaki insan dalam kehidupan dinilai dengan uang, seloroh Sadewa. Lala, Den Ros dan Eza tampaknya mengiyakan pandangan dua teman di atas. Kapital (Uang) menjadi segalanya dalam hidup dan kehidupan, bahkan nirwana pun bisa diraih dengan uang. Tak lama kemudian berlima meninggalkan taman dengan bergandeng tangan usai menikmati jajan yang disodorkan Lela. Rona pun tiba bersama mega-mega menemani kepulangannya.



Selengkapnya...

Friday, December 25, 2009

HEGEMONI KAPITALISME

RosiChin M.

Wajah kapitalisme bukan saja tampak di sudut-sudut kota, di sudut-sudut desa, di sudut-sudut kampus, di sudut-sudut permainan, sampai di sudut-sudut meja pun telah tampak. Wajah itu bertopeng industrialisasi yang terus mendesak wajah pertanian tradisional sehingga wajahnya mengecil dan napasnya terengah-engah tak bisa melawannya. Dominasi kapitalisme di ranah ekonomi terus bergolak, kadang tak lagi mengenal belas kasih, seringkali yang berkapital besar menusuk jantung yang berkapital kecil dan tak sedikit yang terkapar. Namun di lorong budaya, wajah dominasi kapitalisme yang bengis menindas berubah wajah bertopeng manis, demokratis dan tak terasa memaksa atas kehadirannya, itulah wajah hegemoni. Hegemoni yang diusung Gramsci terus melanda di tengah lapang kehidupan, dominasi pun menyingkir pelan. Kapital menjadi roh hegemoni yang menggerakkan aneka ragam relasi-relasi di tengah lapang kehidupan. Kapital di sini bukan saja harta, melainkan bisa tahta, wanita (kecantikan), kharisma, ilmu, adat istiadat, dan seambrek bendera ranah yang berkibar di alun-alun kehidupan.

Upacara keagamaan, upacara adat, upacara perkawinan, upacara melarung, seremoni sunatan dan seremoni lain sejenis sebagai amsal yang menjadi badan atau wadah roh hegemoni. Kehadirannya disambut gembira tiada memaksa, dan seremoni berjalan lancar tak tampak hadirnya hegemoni lantaran lebih melihat kehadiran wajah ideologi yang lebih utama dan menyemangatinya. Kehidupan manusia terasa sulit membuang warna warni dan kerlap kerlip kapital sebagai roh hegemoni, dan menyambutnya dengan senyum manis.



Selengkapnya...

Saturday, December 12, 2009

PROPOSISI RENUNGAN

Den Ros


Identitas Dibangun di Atas Kepentingan-kepentingan.
Satu Kata Punya Seribu Satu Makna Seribu Satu Rasa.
Nasib Manusia Dibangun di Atas Imajinasinya Sendiri.
Dalam Seribu Butir Obat yang Menyehatkan, Terselip Sebutir Obat yang Membahayakan.
Di Balik Indahnya Warna Pelangi Tersembunyi Warna Abu-abu yang Menjadikan Orang Termangu.
Sesekali Orang Perlu Menangis agar Memahami Makna Kehidupan.
Untuk Bisa Menulis Simbol Plus (+) Didahului Menulis Simbol Minus (-).
Kain Kafan Kain Pembatas Kekuasaan Manusia dengan Tuhan.
Batu Nisan Simbol Ketakberdayaan Manusia Melawan Kadar Kehidupannya Sendiri.


Selengkapnya...

Wednesday, October 21, 2009

MENGUBUR MITOS

Den Ros

Batu nisan Mitos telah berdiri di tengah alun-alun kehidupan rakyat. Hari Selasa 20 Oktober 2009 adalah hari yang mencatat sejarah dengan tinta emas, mencatat terkuburnya "Mitos Presiden Indonesia Turun di Tengah Jalan". Soekarno, Presiden Pertama RI turun di tengah jalan, bukan turun di akhir masa jabatannya. Soeharto sebagai Presiden RI berikutnya mengalami nasib yang sama dengan Soekarno. Kemudian Presiden RI Abdurrahman Wahid pun tak jauh beda jejak yang dijalaninya, sang Kyai Haji itu turun dari kursi Singgasana Presiden RI di tengah jalan. Peristiwa-peristiwa itu sebuah sejarah yang melahirkan mitos, Presiden RI selalu turun di tengah jalan. Mitos itu berjalan, menari dan bernyanyi di sudut-sudut desa dan kota seantero nusantara. Haruskah bangsa yang besar ini selalu membuat peristiwa turunnya sang Resi, sang Begawan, sang Presiden dengan tidak manis? Sungguh memilukan dan memprihatinkan bila terulang sepanjang hayat. Sang surya pun akan meneteskan air mata iba sepanjang sungai Nil.


Jam diding berdetak mengikuti jalannya waktu. Waktu telah melukis sebuah potret kehidupan yang indah, Presiden RI bernama SBY turun dengan manis sampai akhir masa jabatannya bersamaan dilantik kembali SBY menjadi Presiden RI 2009-2014 Selasa 20 Oktober 2009. Mitos itu pada hakikatnya terkubur bukan oleh SBY tapi Bangsa Indonesia yang mengubur mitos itu. Selamat untuk Bangsa Indonesia yang semakin cerdas, dewasa, santun dan bijaksana. Mudah-mudahan mitos itu terus terkubur, tak lagi bangkit dari kuburnya dan tertawa di tengah alun-alun kehidupan ibu pertiwi, sehingga bangsa dalam keadaan gemah ripah loh jinawi tata tentrem kertaraharja, baldatun toyibatun warobun ghofur. Selain terus membangun bangsa yang dinamis, berkebudayaan dan berperadaban yang lebih baik dan mendunia.

Meski terbujur di bawah batu nisan Mitos itu masih bernapas. Tangan-tangan rakyat sendirilah yang pada hakikatnya mengubur dan membangkitkan mitos itu. Lantaran itu muncul petanyaan, sanggupkah tangan-tangan rakyat bergandeng tangan penuh kemesraan, terutama tangan agamawan, negarawan, ilmuwan, politikus dan kritikus serta mahasiswa agar napas mitos itu tak menitis dan berubah menjadi api yang akan membakar tangan rakyat yang memiliki segudang ambisi dan kepentingan untuk mencabik-cabik kemesraan itu di masa datang hingga mitos itu kembali tertawa? Waallahualam.

Selengkapnya...

Sunday, October 18, 2009

KOALISI PARTAI PERLU ?

Den Ros

Suatu partai dalam sejarah perjalanannya tak bisa lepas dari pasang surut atau fluktuatif, suatu waktu pasang / besar dan suatu waktu surut / kecil, tak ubahnya air laut. Keadaan itulah yg menjadikan lahirnya 1001 kiat atau strategi partai untuk bisa bertahan tetap besar dan tidak surut serta menghindari hanya tinggal sebuah nama. Kecil kemungkinan sebuah partai bisa bertahan lama kecuali semua orang dan partai menghendakinya. Filosof Yunani Heraklitos mengatakan sesuatu yang ada itu tak pernah tetap.



Contoh sejarah pasang surut kehidupan partai terlihat dalam perjalanan kehidupan partai PNI di era Orde Lama tampak besar/pasang; begitu juga Golkar ketika masa Orde Baru tampak besar/pasang. Tapi saat sang Begawan partai-partai tersebut lengser keparabon partai pun mengalami surut. Kini tampaknya partai berlambang pohon beringin menggeliat bangkit menguatkan kembali pilar-pilarnya, dan membayangi partai Demokrat (PD) yang lagi pasang. Kini sang Begawan PD duduk di kursi Singgasana, yang pada awalnya partai kecil. Bercermin pada perjalanan partai-partai di atas kiranya dapat dipahami eksistensi sebuah partai itu fluktuatif, dan fluktuatif itu sebuah keniscayaan. Oleh karena itu selagi sebuah partai pasang / besar jangan sampai melahirkan arogansi terhadap partai gurem atau yg lagi surut / kecil, lantaran yang kecil bisa jadi menjadi dewa penolong, dan tak ada yang langgeng, kurva lehidupan terus berjalan bersama mentari.

Partai gurem atau kecil pada dasarnya berdiri di persimpangan jalan, menghadapi dilema, jika berkoalisi dengan partai besar (pemenang pemilu), tak akan berarti dan termarjinalkan dikala mengambil suatu keputusan bersama. Oleh karenanya partai yang kalah dalam pemilu dan memiliki massa atau basis besar dan kuat kiranya lebih baik menjadi oposan (yang sebenarnya)jangan hanya oposan moral oposan yang separoh hati. Dengan menjadi oposan akan memiliki harga tawar tinggi sekaligus menjadi pengritik dan pengontrol jalannya roda pemerintahan yg dipegang partai pemenang pemilu agar tidak arogan dan terus berjalan dalam relnya. Bagi partai pemenang pemilu dan pemegang tapuk pemerintahan tampaknya lebih senang berkoalisi karena akan bisa lahir satu nyanyian, satu kata yang indah dan menguatkan pilar-pilar pemerintahannya, selain nyanyian dominasi bisa terus mengalun dan senyum hegemoni menusuk sukma.

Nyanyian Dominasi partai pemenang pemilu akan terus mengalun di sudut-sudut kebijakan dan alun-alun kehidupan. Tebaran senyum hegemoni pun menusuk sukma partai yang kalah hingga tak bisa lagi berkata-kata cuma anggukan kepala mengiyakan lantaran terjebak bermain cinta di kedai koalisi dengan menikmati segarnya secangkir kopi dan lezatnya secuil kue jabatan menteri/jabatan lain sedrajat. Pada hakikatnya kata koalisi sebuah kata yang lebih santun dari sebutan "politik dagang sapi", dan bagi partai yang mau berkoalisi berarti mengubur idealismenya sendiri.

Mengubur idealismenya sendiri bukan menjadi problem bagi si Kutu Loncat, si Petulang Politik lantaran nama dan seonggok jagung lebih dikedepankan dan lebih bisa menjamin dibanding idealismenya yang terus melayang-layang tak karuan. Mungkin malah Kutu loncat, Petualang Politik menjadi idealismenya yang akan membawa pencerahan dalam hidup dan kehidupan. Kutu Loncat, Petualang Politik sebuah proyeksi pepatah Jawa esuk dele sore tempe.


Selengkapnya...

Saturday, September 5, 2009

TAFSIR GURAU

elRos Ms.

Tafsir Gurau atau Tafsir Guyon merupakan sebuah tafsir yang mengurai makna kata atau kalimat secara tidak benar, mengurai makna secara gurauan/guyonan belaka.


Anggota Dewan : 1. anggota wakil rakyat pemilih, 2. anggota wakil rakyat penyuka.
Berjalan kaki : 1. bosan pakai mobil, 2. bosan pakai kendaraan.
Demontrasi : 1. latihan caci-maki orang, 2. tidak ada pekerjaan lain.
Mengemis : 1. buka pintu pahala orang lain, 2. beri peluang orang bersedekah.
Pembunuhan berencana : 1. kegiatan coba ketajaman senjata, 2. latihan berani berbuat.
Pemilu : 1. pesta bagi2 uang, 2. pesta jalan2, 3. pesta main tinta.
Pesawat terbang jatuh : 1. pilot asik melamun, 2. kekurangan bahan bakar.
Pungut puntung rokok : 1. kegiatan bersih2 jalan, 2. cinta tanah air.
Sepak bola : 1. arena adu penonton, 2. ajang kelahi.
Sepur tabrakan : 1. masinis mengantuk , 2. rem blong, 3. tidak ada jalan lain.


Cinta : 1. bayangan kesenangan hidup, 2. bayangan kesusahan hidup.
Pacaran : 1. masa saling tlaktir, 2. masa latihan bohong.
Perkawinan : 1. fase menuju perceraian, 2. fase menuju kematian.
Perceraian : 1. masa kebingungan, 2. masa menunggu pengganti.
Selingkuh : 1. masa bermain2, 2. masa selingan indah dalam hidup.
Poligami : 1. membandingkan jasmani rohani istri2nya, 2. membandingkan pelayanan istri2nya.
Poliandri : 1. membandingkan jasmani rohani suami2nya, 2. membandingkan pelayanan suami2nya.

Kampus : 1. tempat berbisnis, 2. tempat cari jodoh.
Sarjana : 1. suatu gelar pasaran, 2. gelar-gelaran.
Doktor : 1. suatu gelar keangkuhan, 2. gelar jasa jual beli kemampuan.
dokter : 1. gelar tukang jual kertas bermantra, 2. gelar tukang jual jarum suntik.
dukun : 1. gelar tukang jual setan, 2. gelar tukang jual air sumur.
Insinyur : 1. gelar tukang kayu, 2. gelar tukang batu.

hidup :1. masa cari-cari, 2. mata bisa lirak-lirik.
mati : 1. tidak bisa bernapas, 2. tidak bisa bergerak.


elRos menerima sumbangsih Tafsir Gurau Anda, dan yang layak akan dimasukkan Tafsir Gurau ini, Sumbangsih Anda menjadi hak milik elRos.
Sumbangsih Anda bisa diposkan lewat Pos Komentar.
Terima kasih sebelumnya atas sumbangsih Anda.







Selengkapnya...