Selengkapnya...
NeoHumanis
Saturday, April 21, 2012
Sunday, January 1, 2012
YANG PUTIH
semilir angin membelai malam penuh kasih mesra
hujan rintik turun sambut manis dengan senyum manja
tahun baru yang putih mempesona
alunan simponi terompet kehidupan
memperindah suasana malam
asa-asa bertaburan di setiap sukma
dunia semakin indah tanpa noda
beradab dan berbudaya
tiada yang terpidana dan berdusta
menuju muara walau tanpa kata
Monday, October 31, 2011
PANTUN WARNA WARNI
rosichin m.
gadis manja namanya
lulu maria
temannya menyebut dia
lentera
wajah tampak selalu ceria
walau hati dirundung lara
ada rumah bercat
putih
penghuninya berbaju batik
siapa ingin mendapat
kekasih
harus berani maju beradu pisik
buah manggis buah durian
bocah meringis belum makan
turunnya gerimis sebelum hujan
jangan menangis kalau putus pacaran
jangan bermain api
kalau tak ingin terbakar
tinggallah di rumah sunyi sepi
kalau rahasia tak ingin terbongkar
31102011
Selengkapnya...
Tuesday, February 1, 2011
CINTA & DUSTA
Iing Faoky
Cinta putih insan tak mudah dalam mengembangkan sayapnya lantaran dusta selalu mencoba membingkainya. Sehingga kadang mereka yang bercinta pada sesamanya berakhir dengan duka, iba dan hina; dan sebenarnya itu bukanlah cinta, melainkan aktifitas dusta yang dikemas dengan cinta, dan pada hakekatnya aktifitas dusta yang berubah menyerupai cinta. Cinta adalah cinta, dan dusta adalah dusta.
Cinta putih kan berakhir dengan manis dan harum
Cinta berjalan tak kenal jarak dan waktu
semua kan berakhir di titik yang sama
Hidup ada dalam kehampaan kecuali diwarnai dan dibingkai cinta suci
Yang TerIndah itu Cinta
Hati yang kering cinta kan slalu dalam kehampaan
Yang awal dan yang akhir itu cinta
Cinta suci takkan berakhir nestapa
Dosa2 tak perlu dipelihara
Insan yang miliki cinta bagai miliki dua jiwa
Tuesday, August 17, 2010
DERAI AIR MATA
Iing Faoky
Sejarah menjadi saksi, bukan hanya derai air mata insan yang menjadi kapital merebut kemerdekaan dari sang penjajah. Beraneka jenis dan bentuk kapital waktu itu digadaikan demi ibu pertiwi tercinta. Beribu janda rela sang suami pulang diusung keranda tinggal nama, menjadi pahlawan atau suhada. Kini ibu pertiwi terus meneteskan air mata kepiluan hingga menjadi sebuah telaga warna iba lantaran kemerdekaannya diisi dengan tetes-tetes darah arogansi, kecongkakan dan ketakpastian yang tak berujung dan bertepi.
Selengkapnya...
Sunday, August 15, 2010
MERDEKA DALAM MERDEKA UNTUK
Iing Faoky
Setiap orang ingin merdeka dan tidak ingin terbelenggu. Merdeka bukan sesuatu yang mudah menggapainya dan atau melakukannya. Untuk itu kiranya perlu memahami tentang 'merdeka dalam' dan 'merdeka untuk'. Perlu waktu panjang untuk bisa memahami maknanya yang mngkin mengadopsi dari 'bebas dalam' dan bebas untuk'. Kemungkinan pun terbuka lebar telah banyak yang memahaminya. Berbagilah kawan bagi yang telah memahaminya, melalui kolom komentar ...
Selengkapnya...
Monday, May 24, 2010
YANG SAKRAL DAN YANG PROFAN
RosiChin M.
Kehidupan masyarakat dipenuhi warna warni kepentingan, ambisi dan kebutuhan, serta dihiasi tesis-tesis, premis-premis, teks-teks dan simbol-simbol yang bergelantungan menarik per-hati-an. Salah satu teks atau tesis yang menarik yakni 'Yang Sakral dan Yang Profan'. Mircea Eliade mengatakan Yang Profan: bidang kehidupan sehari-hari yang dilakukan secara teratur, acak, mudah dilupakan dan tidak terlalu penting. Yang Profan, tempat manusia berbuat salah dan selalu mengalami perubahan. Sedang Yang Sakral: yang supranatural, tidak mudah dilupakan dan amat penting. Yang Sakral, tempat segala kesempurnaan, tempat diamnya roh leluhur, kesatria dan dewa-dewi. Ia menambahkan, saat seseorang mengalami perjumpaan dengan Yang Sakral dia, merasakan menyentuh sesuatu yang nir duniawi, sesuatu realitas yang abadi tiada bandingannya. Dalam masyarakat sekuler yang hidup dalam peradaban modern, perjumpaan dengan Yang Sakral merupakan sesuatu yang menejutkan, berada dalam bawah sadar atau suatu mimpi-mimpi nostalgia, hanya suatu hasil imajinasi. Menurutnya pula Agama terpusat pada dan dari Yang Sakral. Hakikatnya Yang Sakral berdeda dengan Yang Profan.
Emile Durkheim dalam mengusung Yang sakral dan Yang Profan, pemikirannya selalu dalam konteks masyarakat dan kebutuhannya. Durkheim mengatakan: Yang Sakral: masalah sosial yang berkait dengan individu. Yang Profan: segala sesuatu yang hanya berkait dengan unsur-unsur individu. Sementara Rudolf Otto mengatakan bahwa Yang Sakral sesuatu yang mysterium, yang secara bersamaan sangat agung dan menakutkan. Yang Sakral sesuatu yang luar biasa, substansial, agung dan amat nyata. Ia menambahkan, waktu seorang mengalami perjumpaan dengan Yang Sakral dia akan merasakan dirinya bagaikan tidak ada, hanya sekedar kabut dan debu.
Kini perbedaan Yang Sakral dan Yang Profan amat tipis setipis plastik transparan. Kita bisa melihat salah satu contoh nyata waktu hari raya. Hari itu merupakan saat yang penting bagi yang merayakannya sebagai individu untuk hadir menghadap Yang Supernatural (Tuhan), usai sembahyang, waktu itu pun mengusung apa yang berkait dengan individu dalam konteks masyarakat dan kebutuhan hidup dan kehidupannya, seperti bicara bisnis dana atau pekerjaan . Contoh lain, sebongkah batu biasa, batu yang natural, Yang Profan ketika disentuh Supernatural, batu itu pun berubah menjadi batu suci yang menakjubkan yang di dalamnya terkandung Yang Sakral. Waktu terus berjalan seiring berjalannya sang mentari, kini Wanita itu sesuatu Yang Profan dan Pria sesuatu Yang Sakral atau sesuatu sebaliknya?
Selengkapnya...